:
Breaking News

Tak Hanya Mengaji, Annuqayah Membangun Mesin Ekonomi untuk Membiayai Pendidikan

top-news

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Pondok Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya mengandalkan sumber pembiayaan konvensional untuk menjalankan roda pendidikannya. Di balik aktivitas belajar ribuan santri, terdapat sejumlah unit usaha yang dikembangkan untuk menopang kebutuhan lembaga sekaligus membangun kemandirian ekonomi pesantren.

 

Bagi Annuqayah, pengembangan usaha bukan semata mengejar keuntungan. Aktivitas ekonomi ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, KH. Naqib Hasan, mengatakan filosofi yang dibangun pesantren adalah bagaimana pesantren dan masyarakat dapat tumbuh bersama. Karena itu, penguatan ekonomi tidak dipisahkan dari misi pendidikan dan pengabdian sosial.

 

"Pesantren dan masyarakat harus tumbuh serta berkembang secara bersama," kata Naqib Hasan saat ditemui dalam kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur di Pondok Pesantren Annuqayah, Jumat (7/8/2026).

 

Menurut dia, unit-unit usaha yang dikelola pesantren kini memiliki peran semakin penting dalam menopang keberlangsungan pendidikan. Sekitar 38 persen laba unit usaha Pondok Pesantren Annuqayah telah berkontribusi terhadap pembiayaan kegiatan pendidikan.

 

Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional pendidikan. Dengan demikian, aktivitas bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi salah satu sumber daya yang memperkuat keberlanjutan lembaga pendidikan pesantren.

 

Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi pesantren mulai bergerak dari sekadar aktivitas pendukung menjadi bagian penting dari strategi kemandirian lembaga.

 

"Membangun usaha yang sehat, produktif, sistematis, dan berkelanjutan memang tidak mudah. Namun kami meyakini bahwa penguatan unit usaha merupakan investasi jangka panjang agar pesantren mampu membiayai pendidikan secara lebih mandiri," ujar Naqib.

 

Pengembangan bisnis juga menjadi ruang pembelajaran bagi santri. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui ruang kelas, tetapi dapat mengenal praktik kewirausahaan, pengelolaan usaha, pelayanan konsumen, hingga proses produksi.

 


Peran alumni juga menjadi bagian penting. Setelah menyelesaikan pendidikan, sebagian alumni terlibat dalam pengelolaan berbagai unit usaha pesantren. Jaringan alumni tersebut menjadi modal sosial yang memperluas kapasitas ekonomi Annuqayah.

 

Model semacam ini membuat batas antara pendidikan, kewirausahaan, dan pengabdian menjadi semakin tipis. Santri belajar, alumni mengelola, sementara hasil usaha dikembalikan untuk memperkuat pendidikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

 

Dalam prosesnya, Annuqayah mendapat dukungan dari Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur. Dukungan tersebut antara lain berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perluasan jejaring usaha, publikasi, hingga penyediaan sarana produksi.

 

Sejumlah peralatan yang telah diberikan antara lain combine harvester, mesin pengisi galon air minum dalam kemasan, serta peralatan bakery.

 

Bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tambahan fasilitas. Peralatan produksi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan produktivitas unit usaha sehingga kontribusinya terhadap pembiayaan pendidikan dapat terus bertambah.

 

Bagi Annuqayah, keberlanjutan menjadi kata kunci. Usaha pesantren dituntut tidak hanya menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi memiliki sistem pengelolaan yang sehat dan mampu bertahan menghadapi perubahan.

 

Ke depan, pesantren berkomitmen mengembangkan unit-unit usaha secara lebih produktif dan berkelanjutan. Tujuannya dua: memperkuat kemampuan pesantren membiayai pendidikan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

 

Dari lingkungan pesantren, sebuah pola ekonomi tumbuh. Pendidikan melahirkan santri, santri dan alumni ikut menggerakkan usaha, usaha menghasilkan laba, dan sebagian laba kembali membiayai pendidikan.

 

Siklus tersebut menjadi cara Annuqayah membangun kemandirian—bukan dengan memisahkan pendidikan dari ekonomi, melainkan dengan menjadikan keduanya saling menguatkan. (Jatim Newsroom)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *